Selasa, 05 Mei 2009

05 Mei

Martir Agung Irene of Tesalonika

Martir Agung Irene dilahirkan dikota Magedon di Persia semasa abad ke empat. Dia adalah puteri raja pagan Linisius, dan orangtuanya yang menamainya Penelope.

Penelope sangatlah cantik, dan ayahnya menjaganya di tempat tersembunyi di atas sebuah menara dari umur enam tahun sehingga dia tidak tepengaruh Kekristenan. Dia juga mempekerjakan 13 pelayan wanita di menara itu bersamanya. Gurunya yang sangat tua bernama Apellian ditugaskan untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Apelian adalah seorang Kristen dan selama pengajarannya dia menceritakan Kristus sang Juruselamat kepada anak itu dan mengajarinya iman dan kesalehan Kristen.

Senin, 04 Mei 2009

04 Mei


Martir Perawan Pelagia dari Tarsus, di Asia Kecil






Janasuci Pelagia dari Tarsus di Kilikia (Asia Kecil Tenggara) hidup pada abad ketiga, selama pemerintahan Kaisar Diokletian (284-305), dan merupakan anak pagan yang ternama. Ketika dia mendengar tentang Yesus Kristus dari teman-teman Kristennya, dia percaya pada Dia dan ingin mempertahankan keperawanannya, mempersembahkan segenap hidupnya bagi Tuhan.






Pewaris tahta Diokletian (anak angkatnya), melihat Pelagia terpesona oleh kecantikannya dan menginginkannya untuk menjadi isterinya. Sang perawan suci memberitahukan kepada orang muda itu bahwa dia telah memutuskan untuk menjadi mempelai Kristus sang Mempelai Pria Kekal, dan menolak pernikahan duniawi.






Jawaban Pelagia membuat sang muda marah besar namun dia memutuskan untuk meninggalkannya dalam damai untuk sementara, berharap dia akan berubah pikiran. Pada saat yang bersamaan, Pelagia meyakinkan ibunya agar mengizinkannya untuk mengunjungi perawat yang telah merawatnya pada masa kanak-kanaknya. Dia diam-diam ingin berjumpa dengan episkop Linus dari Tarsus, yang telah melarikan diri ke gunung selama penganiayaan terhadap orang Kristen, dan agar dibaptiskan olehnya. Dia telah melihat wajah Episkop Linus di dalam sebuah mimpi, yang membawa kesan mendalam atasnya. Episkop suci memintanya agar dapat dibaptiskan. Js. Pelagia berkendara dengan kereta untuk mengunjungi perawatnya dengan pakaian yang indah dan dikelilingi oleh pengawal sebagaimana yang diinginkan ibunya.






Dalam perjalanan Js. Pelagia oleh rahmat Allah, berjumpa dengan Episkop Linus. Pelagia segera mengenali Episkop yang telah nampak padanya dalam mimpi. Dia tersungkur dan memohonkan Pembaptisan. Atas doa sang Episkop sebuah sumber mata air mengalir dari tanah.






Episkop Linus membuat Tanda Salib atas Js. Pelagia, dan selama Misteria Pembaptisan, para malaikat menampakkan diri dan menyelubungi sang pilihan Allah dengan tudung yang terang benderang. Setelah memberi sang perawan Komuni Suci, Episkop Linus menaikkan doa syukur kepada Allah bersama dengan dia, lalu mengirim dia kembali. Dia lalu mengganti gaunnya yang mahal dengan pakaian putih sederhana, dan mebagi-bagikan yang dia miliki kepada orang miskin. Begitu kembali kepada para pelayannya, Js. Pelagia mengabarkan Kristus kepada mereka dan bayak dari mereka yang bertobat dan menjadi percaya.






Dia mencoba mempertobatkan ibunya sendiri, namun wanita yang keras kepala itu malah mengabarkan kepada anak Diokletian bahwa Pelagia adalah orang Kristen dan tidak ingin menjadi isterinya. Sang muda menyadari bahwa Pelagia sudah hilang baginya dan dia bunuh diri dengan pedangnya karena patah hati. Ibu dari Pelagia takut akan amarah Diokletian, sehingga dia mengikat puterinya dan menyeretnya ke peradilan Diokletian sebagai orang Kristen yang juga bertanggungjawab atas kematian putera mahkota. Sang kaisar terpesona oleh kecantikan yang tidak biasa dari sang perawan dan mencoba untuk mengalihkan imannya kepada Kristus, dan menjanjikannya segala kelimpahan duniawi jika ia mau menjadi isterinya.






Sang perawan suci menolak tawaran sang kaisar dengan berani dan berkata, "Engkau kehilangan akal sehat, ya Kaisar, berkata demikian kepadaku. Saya tidak akan melakukan keinginanmu dan saya tak sudi akan pernikahanmu yang cemar, sebab aku memiliki Kristus, Raja Sorga sebagai Pengantin Priaku. Saya tidak ingin mahkota duniawimu yang bertahan hanya sebentar saja. Tuhan yang ada di Kerajaan sorgawi telah menyiapkan tiga mahkota kekal bagiku. Pertama untuk iman, sebab aku percaya kepada Allah yang benar dengan sepenuh hati; kedua untuk kemurnian, sebab aku telah mempersembahkan keperawananku bagi-Nya; ketiga untuk kemartiran, sebab aku ingin menerima setiap penderitaan demi Dia dan menyerahkan jiwaku karena cintaku kepada Dia.






Diokletian memutuskan untuk membakar Pelagia di dalam perapian yang membara. Tanpa mengizinkan para penganiaya menyentuh tubuhnya, sang martir suci membuat Tanda Salib dan masuk kedalam perapian menganga dan tubuhnya meleleh seperti minyak mur dan memnuhi kota dengan keharuman. Tulang Js. Pelagia tidak terluka sedikitpun dan ditempatkan oleh para pagan di luar kota. Empat singa dari belantara duduk mengitari tulang itu dan tak mengizinkan burung atau binatang liar mendekat. Singa-singa itu menjaga relik sang janasuci hingga Episkop Linus datang ke tempat itu. Dia mengumpulkan tulang itu dan menguburkannya dengan penuh hormat. lalu, sebuah gereja dibangun di atas relik sucinya.




Ibadah peringatan akan Martir Perwan Suci Pelagia dari Tarsus menyatakan bahwa dia " dilayakan untuk menerima pengliahatan yang paling kudus dan tidak biasa." Dia juga dikenang pada 7 Oktober. Selama masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (306-337), saat pengaiayaan terhadap orang Kristen dihentikan, sebuah gereja di bangun atas kuburan Js. Pelagia.







Sabtu, 02 Mei 2009

02 Mei


Janasuci Athanasius Agung the Patriarkh dari Aleksandria


Janasuci Athanasius Agung, Arkhbisop dari Aleksandria, adalah Bapa agung dalam gereja dan pilar orthodoxia. Dia lahir sekitar tahun 297 di Kota Aleksandria dalam keluarga Kristen yang saleh. Dia menerima pendidikan umum dengan baik, namun ia juga menerima lebih baik lagi dari Kitab Suci. Pada masa kanak-kanak, calon hirarkh Athanasius dikenal oleh Patriarkh Aleksander, dari Aleksandria (29 Mei). Sekelompok anak, termasuk Athanasius bermaindi tepi pantai. Anak-anak Kristen memutuskan untuk membaptiskan teman main pagan mereka.


Athanasius muda yang dijuluki Episkop oleh anak-anak yang lain mengadakan pembaptisan, menirukan persis kata-kata yang ia dengarkan dari gereja selama Sakramen. Patriarkh Aleksander mengamati hal ini dari jendela. Lantas ia menyuruh anak-anak dan orang tua mereka dibawa kepadanya. Dia bercakap-cakap dengan mereka dalam beberapa waktu dan meyakinkan bahwa Pembaptisan yang dilakukan anak-anak itu seturut dengan Tradisi Gereja. Dia mengakui Pembaptisan dan mengesahkannya dengan Krisma. Mulai saat itu, sang Patriarkh mengupayakan pembimbingan rohani bagi Athanasius dan saat tiba waktunya dia membawanya ke pelayanan, mula-mula sebagai Pembaca dan kemudian mentahbiskannya menjadi Diaken.


Sebagai diaken inilah, Js. Athanasius mendampingi Patriarkh Aleksander dalam Konsili Pertama di Nikea pada tahun 325. Dalam Konsili, Js. Athanasius menentang bidah dari Arius. Pidatonya disetujui oleh para Bapa Gereja Orthodox, namun para Arian mereka yang baik terbuka maupun diam-diam membenci Athanasius dan menganiayanya hingga akhir hidupnya.


Setelah meninggalnya Patriarkh kudus Aleksander, Js. Athanasius begitu saja terpilih menjadi Gembala bagi Aleksandria. Dia menolak karena menganggap dirinya tidak layak, namun karena keteguhan hati umat Orthodox yang sepakat, dia ditahbiskan menjadi Episkop saat berusia 28 tahun, dan dikukuhkan sebagai Arkhpastor dari Gereja Aleksandria. Js. Athanasius membimbing jemaat selama 47 tahun dan selama waktu itu, dia bertahan atasa penganiayaan dan duka dari para musuh. Beberapa kali dia diusir dari Aleksandria dan menyembunyikan diri dari pengikut Arian di tempat tersembunyi, sebab mereka mencoba membunuhnya. Js. Athanasius menghabiskan lebih dari 20 tahun di pembuangan, kembali kepada umat dan kemudian dilarang lagi.


Sempat ada waktu ketika dialah satu-satunya Episkop Orthodox di wilayah itu, seketika seluruh episkop jatuh ke dalam bidah. Dalam konsili-konsili palsu para episkop Arian dia dihentikan menjadi Episkop. Terlepas dari berbagai penganiayaan, sang janasuci terus teguh membela kemurnian iman Orthodox dan dia menulis banyak sekali surat dan traktat melawan bidah Arian.


Ketika Yuliam si Murtad (361-363) memulai penganiayaan terhadap orang Kristen, amarahnya jatuh kepada Athanasius yang dia pertimbangkan menajdi pilar Orthodoxia. Yulian ingin menghabisi sang janasuci dalam rangka menghantan umat Kriten dengan kedukaan besar, namun dia membinasakan dirinya sendiri. Terluka fatal dengan panah saat pertempuran, dia meratap dalam putus asa, "engkau telah menang, ya Orang Galilea!" Setelah Yulian meninggal, Js. Atanasius membimbing Gereja Aleksandria selama tujuh tahun dan dia wafat tahun 373 pada usia 76.


Berbagai karya Js. Athanasius telah (masih) dipelihara; empat orasi menentang bidah Arian; juga sebuah Epistel kepada Epiktetus, episkop dari Gereja Korintus, mengenai natur ilahi dan manusia dalam Yesus Kristus, empat Epistel (surat) kepada Serapion, Episkop dari Tmuis, tentang Roh Kudus dan Kesetaraannya dengan Bapa dan Anak, yang ditujukan menentang bidah Makedonius.


Karya Apologetika yang lain dalam membela iman Orthodoxia juga terpelihara yakni Surat kepada Kaisar Konstantinus. Js. Athanasius menulis tafsiran akan Kitab Suci dan buku-buku moral dan karekter didaktik juga biografi dari Js. Antonius Agung (17 Januari) yang sangat dekat dengan Js. Athanasius. Js. Yohanes Krisostomos menyarankan kepada setiap orang Kristen Orthodox untuk membaca kisah kehidupannya.


Peringatan akan Js. Athanasius dirayakan juga pada 18 Januari dengan js. Sirilius dari Aleksandria.

Jumat, 01 Mei 2009

01 Mei


Nabi Yeremia


Nabi Kudus Yeremia, satu dari empat nabi besar Perjanjian Lama, adalah anak dari imam Hilkia dari kota Anatot dekat Yerusalem, dan ia hidup 600 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, dibawah pemerintahan raja Israel Yosia dan empat penggantinya. Dia dipanggil untuk pelayanan kenabian pada usia 15 tahun, ketika Allah menyatakan kepadanya bahkan sebelum kelahirannya Tuhan sudah memilihnya menjadi nabi. Yeremia menolak, berdalil akan kemudaannya dan kekurang-pandaiannya dalam berbicara namun Allah berjanji akan selalu menyertainya dan menjagainya.

Dia menyentuh lidah orang yang dipilih-Nya itu dan berkata, "Ketahuilah, Aku telah menaruh firman-Ku di dalam mulutmu. Aku telah memilihmu hari ini atas bangsa-bangsa dan kerajaa-kerajaan untuk mencabut dan menumbangkan untuk merobohkan dan membangun kembali dan menanam (Yer. 1:9-10). Sejak saat itu, Yeremia bernubuat selama 23 tahun, memperigatkan orang Yahudi karena mereka meninggalkan Allah sejati dan menyembah berhala, memprediksi kesedihan dan perang yang membumi-hanguskan. Dia berdiri di gerbang kota dan di pintu masuk Bait Allah, dimana saja tempat orang-orang berkumpul, dan dia menegur mereka dengan kecaman dan sering dengan air mata. Umat, bagaimanapun menghina dan mengolok-olok dia dan bahkan mencoba untuk membunuhnya.
Menggambarkana bagi orang Yahudi akan beratnya perbudakan oleh raja Babilonia, Yeremia memasang kayu pada lehernya dan lalu kuk besi dan dia pergi ke tengah-tengah khalayak. Murka karena prediksi dari sang nabi, penatua orang-orang Yahudi melemparkan Nabi Yeremia ke dalam sumur yang penuh binatang kecil yang mengerikan dimana dia hampir wafat. Melalui pertolongan bangsawan yang takut akan Allah Habdemelek, sang nabi diangkat dari sumur itu namun dia tetap bernubuat dan kerna ini dia dikirim ke penjara. Dibawah kekuasaan Raja Zedekia, nubuatannya dipenuhi.
Nebukadnezar datang dan menyembelih banyak orang, membawa sisa umat ke pengasingan dan Yerusalem dikepug dan dihancurkan. Nebukadnezar membebaskan sang nabi da mengizinkannya untuk tinggal di mana saja yang dia iginkan. Sang nabi tetap tiggal di antara puing-puinng Yerusalem dan meratapi kemalangan bangsanya. Menurut Tradisi, Nabi Yeremia mengambil Tabut Perjanjian dengan Loh batu dan Taurat dan menyembunyikannnya dalam gua di Gunug Nabat (Nebo), sehingga orang Yahudi tidak menemukannya (2 Mak 2). Selanjutnya, Tabut perjanjian itu diketemukan namun telah berkurang kemuliaannya.
Diantara orang Yahudi yang tetap tinggal di egeri nenek moyangnya, segera ada kerusuhan: Hodolia, raja muda dari Nebukadnesar dibunuh. Orang Yahudi takut terhadap amarah dari Babilonia, memutuskan untuk lari ke Mesir. Nabi Yeremia tidak setuju dengan keinginan mereka dan memprediksikan bahwa ketakutan mereka akan terjadi di Mesir. Orang-orang itu tidak megindahkannya dan tetap pergi ke Mesir bersama tentara, mereka pergi ke Mesir dan tiggal di kota Tatnisy. Di sana, sang nabi hidup selama empat tahun dan dihormati oleh orang-orang Mesir karena doanya dia membunuh buaya dan binatang membayakan mereka. Ketika Yeremia menubuatka bahwa Raja Babilonia juga akan menyerang Mesir dan menghabisi orang Yahudi yang hidup di sana, orang-orang Yahudi membunuhnya. Pada tahun yang sama, nubuatan sang nabi terpenuhi. Ada sebuah tradisi bahwa 250 tahun kemudian, Iskandar Agug memindahkan relik Nabi Suci Yeremia ke Aleksandria.
Nabi Yeremia menulis Kitab Nubuatannya dan Kitab Ratapan tentang penghancuran Yerusalem dan Pembuangan. Waktu kehidupannya dan nubutannya dijelaskan dalam 4/2 Raja-raja (Ps. 23-25) dan II Tawarikh (36:12) dan di 2 Makabe (Ps. 2).
Dalam injil Matius dikatakan bahwa pengkhianatan Yudas sudah dinubuatkan oleh Nabi Yeremia, "dan mereka megambil 30 syikal perak, harga yang anak-anak Israel telah tetapkan dan ia memberi mereka tanah penjunan, sebagaimaa Tuhan memberitahukannya padaku"(Mt. 27:9-10). Mungkin maksudnya Yeremia 32:6-15.
Bahkan setelah kematiannya, Nabi Yeremia masih melakukan kejadian ajaib. Debu dari kuburannya dipercaya dapat menyembuhkan gigitan ular. Banyak orang Kristen memohon pertolongannya degan tujuan ini.

Kamis, 30 April 2009

30 April

Rasul Yakobus saudara Js. Yohanes sang Teologiawan

Rasul Kudus Yakobus, anak Zabadeus adalah sauadara dari Js. Yohanes sang Teolog, dan salah satu dari Duabelas Rasul. Dia dan saudaranya, Js. Yohanes dipanggil menjadi Rasul oleh Tuhan kita Yesus Kristus yang menjuluki mereka dengan "Anak Guntur" (Mark. 3:17). Yakobus inilah bersama-sama dengan Yohanes dan Petrus yang menyaksikan pembangkitan anak perempuan Yairus, Pemuliaan Tuhan di Gunung Tabor dan keperihannya di Taman Getsemani.

Js. Yakobus, setelah turunnya Roh Kudus mengabarkan Injil di Spanyol dan negeri lainnya lantas ia kembali ke Yerusalem. Dia terus terang dan dengan gagah berani memberitakan Yesus Kristus sebagai penyelamat dunia, dan ia mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat dengan kata Kitab Suci, menegur mereka atas kedengkian hati mereka dan ketidak-percayaan mereka.

Orang-orang Yahudi tak dapat bertahan terhadap Js. Yakobus, dan mereka membayar seorang tukang tenung Hermogenes untuk beradu dengan sang rasul dan menyangkal pendapatnya bahwa Kristus ialah Mesias yang datang ke dalam dunia. Sang tukang tenung dikirimkan ke hadapan murid sang Rasul , Filipus yang telah bertobat kepada Kristus. Lalu Germogenes sendiri dibujuk dengan kuasa Allah, dia membakar buku sihirnya, menerima Baptissan dan menjadi pengikut Kristus sejati.

Orang-orang Yahudi membujuk Herodes Agrippa (40-44) agar menangkap Rasul Yakobus dan menghukum mati dia (Kisah 12:1-2). Eusebius menuliskan detail dari penghukuman janasuci ini (SEJARAH GEREJA II, 9). Js. Yakobus dengan tenang mendengarkan vonis hukuman dan terus saja membawa kesaksian tentang Kristus. Satu dari saksi palsu yang bernama Yosia, terpukul oleh keberanian Js. Yakobus. Dia percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias. Ketika mereka membimbing sang rasul menuju eksekusi, Yosia berlutut, bertobat dari dosanya dan memohon pengampunan. Sang rasul memeluknya dan menciumnya dan berkata, "Damai dan pengampunan bagimu. " Lalu Yosia mengakui imannya akan Kristus di hadapan semua orang dan dia di penggal bersama dengan Js. Yakobus pada tahun 44 di Yerusalem.


Js. Yakobus merupakan Rasul pertama yang wafat sebagai seorang Martir.
____________________________________________________________________
Penemuan Relik Js. Nikita Episkop dari Novgorod

Janasuci Nikita mulanya adalah Pendoa dari Gua Kiev yang tertidur dalam Tuhan tahun 1109, setelah melayani sebagai Episkop bagi Novgorod selama 13 tahun.


Episkop Nikita dimuliakan menjadi janasuci selama pemerintahan Tsar Ivan Vasilevich dan relik kudusnya, yang berpakainkan jubah utuh ditemukan pada 30 April 1558. Hari itu ditandai dengan penyembuhan banyak orang. Reliknya kini tinggal di katedral Rasul Kudus Filipus di Novgorod.
Js. Nikita juga diperingati pada tanggal 31 Januari, tanggal wafatnya dan 14 Mei.
___________________________________________________________________
Penemuan relik Js. Basil Episkop dari Amasea

Hiromartir Basil, Episkop dari Amasea hidup di awal abad ke empat di Kota Potini, Amasea. Dia menguatkan dan menghibur orang-orang Kristen yang menderita aniaya oleh penyembah berhala. Selama masa kekaisaran Romawi Timur diperintah oleh Lisinius (311-324), saudara ipar kaisar kudus Konstantinus Agung (21 Mei). Lisinius bermuslihat dengan menandatangani Edik Milano dari kaisar Konstantinus (313), yang menyatakan tolerasi agama bagi orang Kristen namun sesungguhnya dia membenci mereka dan terus saja menganiaya mereka.
____________________________________________________________________
Martir Maximus dari Efesus





Martir Kudus Maximus menderita demi imannya kepada Kristus dan dibunuh dengan sebilah pedang.

____________________________________________________________________



Js. Ignatius Brianchaninov sang Episkop



















Rabu, 29 April 2009

29 April


6,000 Martir dari Monasteri Js. David Gareji , Georgia


Pada tahun 1616 shah Persia Abbas I menyerang Georgia dengan tentaranya. Setelah lega dari dahaga akan darah orang Kristen dia merancangkan perburuan di lembah Gare (Luar) Kakheti. Dia berkemah dengan para pengawalnya di pegunungan Gareji dan bermalam di tempat itu.


Saat tengah malam, perhatian Syah tertuju kepada kobaran cahaya yang memendar dari gunung itu. Awalnya dia berpikir itu adalah hantu. Lalu dia diberi tahu bahwa ada biara yang terletak ditempat itu dan pada malam itu para rahib sedang mengelilingi gereja mereka tiga kali dengan nyala lilin dalam perayaan Kebangkitan Kudus Kristus. Sekonyong-konyong sang shah memerintahkan pasukannya untuk menyerbu monasteri itu dan meremukkan siapa saja yang ada dalam perayaan.


Pada malam itu juga, seorang malaikat Tuhan datang kepada Abot Arsenius dari David-Gareji dan memberitahu kepadanya, " Tuhan kita Yesus Kristus sedang memanggil para saudara ke Kerajaan Sorgawi. Malam ini kepayahan besar akan melanda kalian-- dan engkau akan dibunuh dengan pedang. Barangsiapa yang ingin hidup lebih lama di bumi, hendaklah ia lari namun bagi yang haus akan kemurnian jiwanya dengan kekekalan, biarlah ia mati dengan pedang dan TUHAN Allah akan menghiasinya dengan mahkota kekekalan. Katakanlah ini kepada semua yang ada di monasteri ini dan biarlah masing-masing orang memilih bagi dirinya.


Sang Abbot menginformasikan penglihatan ini kepada para Rahib dan mereka mulai mempersiapkan diri untuk penderitaan yang kian mendekat. Hanya dua rahib muda yang takut mati dan melarikan diri ke gunung yang tak jauh dari monasteri itu. Pada waktu pengidungan Doa Bapa Kami mendekati akhir Liturgi Paskah, monasteri itu telah dikepung oleh tentara Persia. Abbot Arsenius keluar dari gereja dan mendekati pemimpin mereka meminta waktu sedikit lagi bagi para rahib untuk menyelesaikan sembayang dan bagi semua saudara untuk menerima Perjamuan Suci.


Orang-orang Persia itu berembuk dan menyetujui permintaan itu. Para romo mengambil bagian dalam Anugerah Kudus, menguatkan satu sama lain dan mempersembahkan diri mereka dalam pakaian pesta dihadapan para orang yang tak percaya. Mula-mula mereka memenggal Abbot Arsenius, lalu mereka menyembelih para saudara dengan tanpa belas kasihan.


Setelah para Persian menghabisi para rahib, mereka dibagi ke dalam beberapa rezimen dan mencari jalan untuk pergi ke monasteri yang lain dalam Rimba Gareji. Di tengah jalan antara Cikituri dan Monsteri Yohanes Pembaptis para Kedar menangkap dua rahib muda yang melarikan diri dan meminta mereka beralih ke Kedar.


Para rahib itu menolak untuk menyangkal iman mereka dan oleh karena itu mereka di bunuh. Sebatang mawar liar tumbuh di tempat itu dan terus mewangi hingga abad ke 19, terlepas dari keadaan tanah yang kering dan berbatu.


Pada akhir abad ke 17, Raja Arkhil mengumpulkan tulang belulang para martir itu dengan rasa sangat hormat dan menguburkan mereka di dalam relikuari batu yang sangat besar di sebelah kiri alatar di Gereja Transfigurasi di Monasteri David-Gareji. Relik suci mereka terus menerus mengalirkan mur wangi hingga hari ini.


Para saudara dari Monasteri Daud dari Gareji dan Js. Yohanes Pembaptis memperoleh berkat dari Katholikos Anton I untuk menyusun ibadah peringatan bagi para martir dan mencanangkan hari perayaan mereka sebagai Selasa Terang, hari ketiga dari Paskah Suci.

Selasa, 28 April 2009

28 April




Rasul Yason, satu dari Tujuh Puluh dan mereka yang bersama-sama dengan dia (Martir Kerkira, Janasuci Murinus).

Rasul Yason berasal dari Tarsus (Asia Kecil). Dia adalah orang Kristen pertama di kota itu. Rasul Sosipater berasal dari Patra, Akhaya. Dia di duga adalah Sosipater yang sama yang disebut dalam Kisah 20:4. Mereka sama-sama menjadi murid Js. Paulus, yang bahkan memanggil mereka saudaranya (Roma 16:21). Js. Yohanes Krisostomos (Homili 32 mengenai Surat Roma) mengatakan bahwa ia adalah orang yang sama yang disebutkan dalam Kisah 7:5-9. Js. Yason diangkat menjadi Episkop di kota kelahirannya Tarsus dan Js. Sosipater di Ikonium. Mereka mengarungi wilayah barat memeberitakan Injil dan pada tahun 63 mereka mencapai pulau Kerkira [Korfu] di laut Ionia dekat Yunani.

Mereka membangun gereja menurut nama Protomartir Stefanus di sana dan membaptiskan banyak orang. Sang Gubernur pulau tersebut mengetahuinya dan memasukkan mereka ke dalam penjara, dan disana mereka bertemu dengan tujuh pencuri: Saturninus, Iakischolus, Faustianus, Yanuarius, Marsalius, Euphrasius and Mammius. Para rasul itu mempertobatkan mereka kepada Kristus, ketujuh napi itu wafat sebagai martir dalam kuali tar meleleh, malam dan belerang.

Sang sipir penjara, setelah menyaksikan kemartiran mereka, menyatakan dirinya sebagai Kristen. Karena itu mereka memotong tangan kirinya, lalu kedua kakinya hingga akhirnya kepalanya. Sang gubernur memerintahkan agar Rasul Yason dan Sosipater dicambuki dan dimasukkan lagi ke dalam penjara.

Ketika sang putri gubernur Kerkira (Korfu), sang jelita Kerkira, menyadari bagaimana orang-orang Kristen menderita bagi Kristus, dia menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen dan memberi segala perhiasannya kepada orang-orang miskin. Sang gubernur yang geram hendak membujuk putrinya untuk menyangkal Kristus, namun Js. Kerkira tetap teguh baik terhadap rayuan maupun ancaman. Lalu ayah yang murka itu mencanangkan hukuman bengis untuk putrinya: dia memerintahkan agar dia di lemparkan ke penjara sel bersama-sama sang rampok dan pembunuh Murinus, sehingga ia dapat mencemari kesucian mempelai Kristus.

Namun ketika sang rampok mendekati pintu penjara, seekor beruang menyerangnya. Js. Kerkira mendengarkan keributan itu dan mengusir beruang itu dalam nama Kristus. Lalu melalui doanya , dia menyembuhkan luka-luka Murinus. Lalu Js. Kerkira meneranginya dengan iman kepada Kristus dan Js. Murinus menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen dan diganjar.

Sang gubernur memerintahkan untuk membakar penjara itu, namun perawan kudus itu tetap hidup. Lalu atas perintah murka ayahnya, dia digantung pada sebuah pohon, dipanggang dengan asap yang pedih dan dipanah. Setelah kematiannya, gubernur memutuskan untuk mengeksekusi semua orang Kristen di pulau Kerkira. Martir Zeno,Eusebius, Neon dan Vitalis, setelah diterangi oleh Js. Yason dan Sosipater dibakar hidup-hidup.

Para penduduk Kerkira, melarikan diri dari penganiayaan, menyeberang ke pulau tetangga. Gubernur mengutus sepasukan tentara namun mereka ditenggelamkan oleh ombak. Lantas gubernur mememerintahkan agar Rasul Yason dan Sosipater dilemparkan ke kuali ter mendidih. Ketika menyaksikan bahwa mereka tidak terluka, dia berseru dengan linangan air mata, "Ya Allah Yason dan Sosipater, kasihanilah aku!"

Setelah dibebaskan, Sang Rasul membaptiskan gubernur dan memberi nama Sebastian. Melalui pertolongannya, rasul Yason dan Sosipater membangun beberapa gereja di pulau itu, dan menambah jumlah jemaat dengan pemberitaan mereka yang tekun. Mereka hidup hingga lanjut usia.

Martir Dada di Dorostolum

The Martir Dada, Maximus and Quintilian menderita dibawah Kaisar Diokletian (2854-305), yang menerbitkan keputusan menuntut semua orang untuk mempersembahkan korban kepada berhala selama festival rakyat, dan membunuh orang Kristen.

Tarkhuinus dan Garbinius, para wakil Kaisar di Dorostolum mengadakan pesta yang meriah yang dihadiri tidak hanay oleh penduduk kota, tetapi juga orang-orang dari perkampungan sekitarnya.

Seusai festival, sesorang melapor kepada Kaisar bahwa tiga bersaudara Dada, Maximus dan Quintilian tidak mematuhi perintah kerajaan dan melarikan diri ke hutan Ozovia. Para tentara diutus untuk mencari mereka yang mendapati ketiga saudara sedang berdoa dan membawa mereka ke dalam pencobaan.

Sang gubernur menginterogasi sang kakak-adik, yang mengakui bahwa mereka orang Kristen. Trankhuinius merayu untuk menjadikan Js. Maximus imam pagan bagi dewa Zeus, namun ia menentang Zeus dan mengaku pada Allah yang benar.
Tranqhuinius mencoba untuk berdalil dengan Js. Dada dan Quintilian. Mereka berkata bahwa saudara mereka itu sangat tepat dalam Kitab Suci dan mereka akan mengikuti jejaknya kemanapun dia pergi. Mereka melemparkan kakak-beradik itu ke dalam penjara namun mereka hanya memikirkan akan keselamatan jiwa mereka. Pada tengah malam keteka para jana suci itu terlelap, setan menampakkan diri kepada mereka. Ketika para Martir itu bangun, mereka melihat seorang malaikat yang berkata, "Jangan takut, karena Allah pengharapanmu membawamu kepada-Nya. Dia tidak jauh dari engkau dan akan menopangmu."

Pada pagi harinya, Trankhuinius menyatakan kepada kakak-beradik itu bahwa dewa-dewa telah menyatakan kehendak kepadanya di dalam mimpi: mereka akan dibunuh jika mereka tidak mempersembahkan korban. Para martir menjawab bahwa Allah memerintahkan mereka untuk menahan penganiayaan itu demi nama-Nya.

Penganiayaan dan interogasi berlanjut selama beberapa hari dari pagi hingga petang. Akhirnya mereka menjatuhkan hukuman mati kepada para martir, membawa mereka ke hutan dan memenggal mereka dengan sebilah pedang.