
Hiromartir Lucianus sang Episkop bagi Beauvais di Perancis
Hiromartir Lucianus hidup di Roma dan nama pagannya dahulu ialah Lucius. Dia dipertobatkan ke dalam Kekristenan oleh Rasul Petrus dan dibaptiskan. Setelah wafatnya Js. Petrus, Js. Lucianus mengabarkan Injil di Italia. Js. Dionisius sang Aeropagis (3 Oktober), seorang murid dari Js. Paulus tiba di Roma pada waktu itu. Atas permintaan Js. Klement, Papa dari Roma (25 November), dia setuju untuk mengabarkan injil di Barat dan mengumpulkan rekan dan penolong untuk tugas ini.
Js. Klemens mentahbiskan Js. Lucianus sebagai Episkop, lalu mengirimkan dia bersama-sama dengan Js Dionisius, Js. Marselinus dan Saturninus, Presbiter Maximianus dan Diaken Yulian.
Para pekabar injil itu menyebrang dari Italia sampai dengan Gaul (di dunia modern Perancis). Js. Marsellinus dan yang menyertainya melanjutkan hingga Spanyol. Js. Saturninus pergi ke Gaul dan Js. Dionisius dan yang lainnya pergi ke daerah Paris. Dari sana Js. Lucianus pergi ke Belgium bersama Maximian dan Yulian.
Pewartaan Js. Lucianus sangatlah berhasil. Dengan kuasa perkataannya dan teladan hidupnya, dia mempertobatkan banyak pagan ke dalam Kekristenan. Js. Lucianus adalah seorang asketik yang taat, dan sepanjang hari dia hanya memakan sekerat roti dan air minum. Dia amat baik kepada mereka yang telah menjadi percaya, memiliki wajah yang senantiasa cerah dan berseri-seri. Dengan segera hampir seluruh penduduk Belgium dibawa kepada Kristus.
Selama masa ini, kaisar Romawi Dometian (81-96) memulai penganiayaan kedua terhadap umat Kristen (setelah Nero, 54-68), dan dia mengeluarkan sebuah edikta yang memaparkan penganiayaan dan pembunuhan bagi siapa saja yang menolak penyembahan terhadap allah pagan.
Tiga serdadu dikirimkan ke Belgium untuk menyampaikan edikta itu. Tuhan menyatakan itu kepada Js. Lucianus tentang siksaan yang sedang menantinya. Dia mengumpulkan umat di sana bersama-sama, menasihati mereka agar tidak takut ancaman, aniaya ataupun kematian, dan mereka mengucapkan syukur kepada Allah oleh karena telah mengaruniakan kesempatan untuk bergabung bersama para martir kudus. Setelah berdoa, Js. Lucianus dan sang imam Maximian dan Diaken Yulian pergi ke puncak bukit, tempat ia meneruskan pengajaran kepada mereka yang datang menemuinya.
Di sinilah para tentara dari kaisar datang ke tempat para janasuci dan membawa mereka ke pengadilan.Js. Maximian dan Yulian dipaksa untuk menyangkal Kristus dan mempersembahkan persembahan kepada berhala-berhala, namun mereka berdua menolak dan dipenggal.
Sang hakim mulai memeriksa Js. Lucianus, menuduhnya sebagai yang melakukan perdukunan dan ketidaktaatan kepada kaisar dan Senat. Sang janasuci menjawab bahwa dia bukanah penyihir namuan adalah hamba dari Allah yang benar, Tuhan Yesus Kristus, dan dia menolak untuk memberikan persembahan kepada berhala yang dibuat dengan tangan.
Sang Janasuci dikenakan pukulan yang mengerikan yang ditengah-tengahnya dia menjawab, "Aku tida akan pernah berhenti memuji Kristus, Anak Allah, di dalam hatiku dan di dalam mulutku." Lalu sang martir kudus itu dipenggal. Sinar sorgawi emancar dari tubuhnya dan Suara Sang Juruselamat terdengar, memanggil sang janasuci yang menderita dengan gagah berani ke dalam Kerajaan sorga dan menerima mahkota martir. Dengan kekuatan dari Allah sang martir berdiri, mengambil kepalanya yang putung dan menyebrang melewati sungai. Setelah mencapai tempat penguburan yang dia pilih, dia berbaring ditanah dan beristirahat dalam damai.
Karena mujizat agung ini, sekitar 500 pagan bertobat kepada Kristus. Lalu sebuah gereja didirikan diatas makam Js. Lucianus dan relik martir Maximian dan Yulian dikirim ke sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar