Jumat, 12 Juni 2009

12 Juni


Janasuci (Yohannes) Tornike dari Gunung Athos

Tornike Eristavi (sebuah gelar Georgian yang secara harafiah berarti "kepala pasukan". Seorang eristavi adalah kepala atau pemimpin dari sebuah provinsi dan pilar bagi kerajaan Georgia. Selama suatu masa dalam sejarah Georgia, gelar ini adalah gelar turun temurun. Gelar ini setara dengan gelar Duke di Eropa, selanjutnya beliau disebut Yohanes dari Gn. Athos) adalah pemimpin pasukan Georgia yang ternama oleh karena kemenangannya dalam sebuah perang dan perkenanan dari Raja Daud Kuropalates. Akhirnya beliau meninggalkan kemuliaan duniawinya dan memulai mencari bapa rohaninya, Js. Yohanes di Gunung Olimpus. Disana beliau menyadari bahwa Js. Yohanes sudah pindah ke Gn. Athos, sehingga beliau menuju ke sana dan tinggal dengannya di sebuah biara yang dikepalai oleh Js. Athanasius sang Athonan. Beliau dinobatkan menjadi rahib dan diberi nama baru, Yohannes.

Lalu banyak orang Georgia menjadi haus akan kehidupan Asketis dan tiba untuk berjuang di Gunung Suci. Untuk melayani komunitas muda tersebut, Js. Yuhanes membangun sebuah gereja menghormati Js. Yohanes Sang Teolog dan mendirikan sel disekitarnya. Dengan demikian, komunitas Georgia mula-mula di Gn. Athos didirikan.

Pada masa itu, Bardas Sklerus, kepala pasukan dari Asia Kecil, memimpin pemberontakan melawan Basilus dan Constantinus, kasiar-kaisar muda Byzantin. Theophania sang janda permaisuri mengharapkan bantuan dari Georgia, meminta agar Yohanes Tornike berangkat ke negeri kelahirannya, memberitahukan kepayahan di Byzantium dan mendatangkan pasukan Georgia untuk penolong. Setelah saudara yang lain juga memohon kepadanya, beliau menerima berkat dari Js. Athanasius dan kembali ke Georgia dan menyampaikan surat Theophania kepada Raja Daud Kuropalates. Sang raja dengan amat gembira akan usulan perwira kebanggaannya dan akhirnya dengan pertolongan Allah, dengan bimbingan dari Yohanes Tornike, dua belas ribu tentara Georgia berhasil menaklukan pasukan Bardas Sklerus dan mengusir pengkhianat dari Byzantium (s. 979).

Setelah kemenangan ini, Yohanes Tornike kembali segera ke Gn. Athos. Para saudara menjumpainya dengan gembira dan bersyukur kepada Allah karena telah mengembalikannya dengan selamat ke monasteri.

Js. Yohanes-Tornike ialah teladan yang agung untuk kerendahan hati. Dia menyangkal kehendaknya sendiri secara penuh dan tidak akan melakukan apapun tanpa berkat dari bapa rohaninya. "Saya mempercayakan diri dan kehendak saya kepadamu. Selamtkanlah aku seturut kehendakmu! demikaian ujarnya kepada Js. Yohanes.

Para saudara di monesteri itu sering bertanya kepada Yohanes Tornike untuk mengingatkannya akan keagungannya secara militer. Suatu kali Js. Yohanes diminta untuk menceritakan ingatannya kepada Bapa Gabriel, seorang yang tidak pernah mengatakan hal-hal yang sia-sia. Js. Yohanes Tornike setuju dan setelah beliau mengisahkan kejayaannya kepada sang Orang Tua, dia berhenti berbicara seketika. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di dalam ketenangan, kesunyian dan wafat dengan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar