Minggu, 11 April 2010

April 11/Maret 29

Kita diberitahu tentang penderitaan Js. Markus oleh Janasuci Gregorius Sang Teolog dan Theodorit Yang Berbahagia. Menurut laporan ini, Markus, selama pemerintahan Kaisar Konstantin, menghancurkan sebuah kuil kafir dan banyak orang dibawa kepada Iman Kristus. Ketika Julian naik tahta dan, tak lama setelah itu, murtad dari Iman Kristen, warga Arethusa kemudian juga menyangkal Kristus dan kembali ke paganisme. Kemudian mereka bangkit melawan Markus karena ia dituduh merusak rumah mereka, memaksa bahwa ia lebih baik membangun kembali kuil atau membayar sejumlah besar uang. Karena Markus menolak untuk melakukan salah satu dari dua, ia dicambuk, diejek dan diseret melalui jalan-jalan. Setelah itu mereka putus telinganya dengan benang tipis namun kuat. Mereka kemudian dilucuti dia, menggosok dia dengan madu, dan meninggalkannya terikat ke sebuah pohon di musim panas sehingga ia akan digigit oleh tawon, nyamuk, dan lebah. Martir Kristus ini menjalani semuanya tanpa mengeluh. Markus sudah sangat tua, tapi wajahnya bersinar seperti malaikat. Orang kafir mengurangi harga untuk rumah mereka agar Markus tergoda, yang ia bisa dengan mudah diberikan, namun ia menolak untuk memberikan bahkan satu koin untuk tujuan ini. Kesabaran itu membuat kesan besar pada warga, dan mereka mulai mengaguminya untuk itu dan merasa kasihan padanya. Mereka kemudian menurunkan biaya kuil untuk praktis tidak ada, untuk memungkinkan dia untuk hidup. Akhirnya, mereka diizinkan untuk pergi bebas, dan satu demi satu mereka semua telah menerima instruksi dari dia dan kembali ke Iman Kristen. Pada saat yang sama, di kota Heliopolis di kaki Gunung Libanon, diakon Cyril menderita karena tindakan serupa. Selama waktu ketika agama Kristen menikmati kebebasan, Cyril menghancurkan beberapa berhala dan di bawah Julian yang Murtad, disiksa secara brutal. Jadi sakit hatilah orang-orang pagan terhadap dirinya bahwa ketika mereka membunuhnya, mereka merobek dan membuka isi perut dengan gigi mereka. Pada hari yang sama di mana St Cyril menderita, banyak orang lain juga menderita. Orang-orang kafir yang dengki mencacah mereka sampai tubuh mereka menjadi potongan-potongan, dicampur dengan jelai dan pakan ke babi. Hukuman mencapai para penganiaya itu dengan cepat: semua gigi rontok dan bau tak tertahankan dipancarkan dari mulut mereka.

Minggu, 23 Agustus 2009

23 Agustus


Martir Lupus sang pelayan dari Js. Demetrius dari Tesalonika


Martir Lupus hidup pada akhir abad ke tiga dan awal abad ke empat, yang juga adalah hamba setia dari Martir Agung Kudus Demetrius dari Tesalonika (26 Oktober). menghadiri kematian tuannya, dia membasuh pakaiannya sendiri dengan darah tuannya dan mengambil cincin dari tangannya. Dengan pakaian ini dan cincin serta nama Martir kudus Demitrius, Js. Lupus mengerjakan banyak mujizat di Tesalonika. Beliau menghancurkan kuil-kuil berhala yang menyebabkan dia dianiaya oleh para pagan, namun dia dilindungi hingga tidak terluka dengan kuasa Tuhan. Js. Lupus dengan sukarela menyerahkan dirinya sendiri kepada para penyiksa dan atas perintah kaisar Maximian Galerius, dia dipenggal dengan pedang.

Rabu, 19 Agustus 2009

19 August


Martir Andreas sang kepala pasukan di Kilikia


Martir Andreas sang kepala pasukan di Roma selama masa pemerintahan kaisar maksimian (284-305). Mereka menyayanginya di kalangan tentara Romawi karena keberaniannya, ketangguhannya dan keadilannya. ketika pasukan Persia menginvasi wilayah Syria, gubernur Antiokhus mempercayakan Js. Andreas dengan perintah kepada tentara Rowawi, memberikan dia gelar Strattelat (Jenderal). Js. Andreas memilih detasemen kecil dari tentara dan menyisiri rintangan itu.


Tentaranya waktu itu adalah para pagan dan Js. Andreas belum dibaptis, namun dia percaya kepada Yesus Kristus. Sebelum konflik itu dimulai dia meyakinkan para tentaranya bahwa berhala pagan adalah iblis dan tidak bisa menolong mereka di dalam perang. Dia menyerukan kepada mereka tentang Yesus Kristus, sang Tuhan yang Mahakuasa atas sorga dan bumi yang menolong semua orang yang percaya kepada-Nya.


Para prajurit berangkat ke medan perang, meminta pertolongan Sang Juruselamat. Detasemen kecil itu berpacu ke sejumlah wilayah Persia. Js. Andreas pulang dengan kemenangan yang gemilang dan sempurna. namun seseorang yang iri hati mengkhianatinya dan menyangkalnya di hadapan gubernur Antiokhus bahwa dia adalah seorang Kristen yang telah mempertobatkan para pasukan yang ada di bawahnya kepada imannya.


Js. Andreas dihadapkan pada ujian, dan di sana dia menyatakan imannya kepada Kristus. Karena hal ini mereka menyiksanya. Dia membaringkan diri di atas tembaga yang panas, namun segera menyaksikan pertolongan Tuhan dan dipan itu menjadi dingin. Mereka menyalibkan para tentara itu pada kayu, namun tak seorangpun yang menyangkal Kristus. Dikunci di dalam penjara, Antikhus melaporkan berbagai tuduhan itu kepada sang kaisar yang akhirnya tak mampu menjatuhkan hukuman kepada sang pahlawan. Sang kaisar mengetahui bagaimana para tentara menyayangi Js. Andreas dan takut akan adanya pemberontakan, dia memberi perintah untuk membebaskan para martir itu. Walau demikian, dia sembunyi-sembunyi menganiaya mereka dengan berpura-pura.


Jumat, 07 Agustus 2009

07 Juli


Martir Dometius dari Persia

Janasuci Dometius hidup di Persia semasa abad ke empat. Pada masa mudanya dia ditobatkan menjadi Kristen oleh seorang Kristen bernama Uaros. Setelah menginggalkan Persia, beliau bergerak ke kota Nisibis (di Mesopotamia), dimana beliau dibaptiskan di dalam salah satu monasteri, dan menerima tahbisan monastik.

Melarikan diri dari maksud jahat dari beberapa biarawa, Js. Dometius pindah ke monasteri Js. Sergius dan Bakhus di kota Theodosiopolis. Monasteri itu di bawah asuhan seorang arkhimandrit bernama Urbelos, seorang asketik yang taat, yang konon kabarnya selama 60 tahun beliau tidak merasakan masakan, ataupun beliau berbaring tidur, namun beristirahat dengan cara berdiri, menyangga tubuhnya dengan sebatang tongkat.

Di dalam monasteri ini, Js. Dometius ditahbis menjadi diakon, namun ketika sang arkhimandrit memutuskan untuk mentahbiskannya menjadi seorang imam, sang janasuci merasa tidak layak sehingga beliau menyembunyikan diri di pegunungan yang sunti di Siria, di daerah Khirus.

Kisah akan hidupnya menyebar luas di antara para penduduk. Mereka mulai mengunjunginya untuk kesembuhan dan pertolongan. Banyak para pagan dibawa kepada Kristus melalui Dometius. Suatu kali, pejabat berselisih dengan para muridnya, maka kaisar Yulian sang Murtad (361-363 M) tiba, menyuarakan kampanyenya melawan Persia. Atas perintah kaisar, para tentara menemukan Js. Dometius sembhayang bersama para muridnya di dalam sebuah gua dan mereka dikubur hidup-hidup di dalamnya.

Kamis, 16 Juli 2009

16 Juli


Martir Wanita Julia (Yulia) dari Karthago

Sang martir wanita(perawan) Yulia dilahirkan di Karthago di dalam sebuah keluarga Kristen. Saat dia masih gadis belia dia ditangkap oleh orang Persia. Mereka membawanya ke Persia dan menjualnya sebagai budak. Namun dia setia memenuhi ajaran Kristiani, Js. Yulia menaati tuannya dengan setia. Dia menjaga kesuciannya dan banyak berpuasa serta berdoa kepada Allah. Tidak ada yang dapat dilakukan tuannya untuk merayunya ke dalam penyembahan berhala.

Suatu kali tuannya pergi berdagang ke Gaul(Perancis) dan membawa serta Yulia. di dalam perjalanan, kapal layar itu berlabuh di pulau Korsika dan tuannya itu hendak mengikuti perayaan pagan(penyembah berhala), namun Yulia tetap tinggal di dalam kapal. Penduduk pulau Korsika menjamu sang pedagang itu dengan minuman memabukkan hingga ia tertidur lalu mereka menyeret Yulia keluar kapal. Js. Yulia tidak takut mengakui bahwa dia adalah seorang Kristen dan pagan yang keji itu menyalibkannya.
Seorang malaikat Tuhan memberitahukan perihal kematian martir kudus ini kepada para rahib di sebuah monasteri(kerahiban), yang terletak di dekat pulau itu. Para rahib lalu mengambil tubuh sang janasuci dan menguburkannya di sebuah gereja di monasteri mereka.

Jumat, 03 Juli 2009

3 Juli


Pangeran Basilus dan Konstantinus dari Yoroslav yang Beriman benar

Pada masa muda mereka, mereka telah kehilangan ayahanda mereka, Vsevolod, yang wafat di dalam pertempuran dengan bangsa Tatar (Mongolia). Js. Basilus sang kakak, menggantikannya duduk takhtanya. Sebagai seorang pangeran, beliau harus menghadapi begitu banyak tanggung jawab, pikiran dan kedukaan. Kota-kota dan desa-desanya dihancurkan oleh bangsa Tatar, banyak penduduk yang hidup tanpa atap dan makanan dan dia juga masih harus mengurusi semua hal dan semua orang. Selain itu, sangatlah perlu baginya untuk memperoleh perkenanan dari sang Khan Tatar, dan pangeran kudus lebih dari sekali pergi keluar negeri Horde untuk alasan ini. Beliau juga menderita karena kehilangan putranya satu-satunya.

Semua kesulitan itu beliau jalani tanpa mengeluh, dan beliau menjalankan pemerintahan sebagaimana seorang Kristen yang sejati. Beliau tidak melibatkan diri di dalam perselisihan diantara putra mahkota, dan lebih peduli akan pengikutnya yang miskin papa, dan beliau membengun gereja-gereja. Namun, selanjutnya hidupnya dipenuhi derita, karena keletihannya beliau sakit dan wafat pada tahun 1249.

Setelah beliau, Pengeran kudus Konstantinus menggantikannya duduk di takhta. Beliau mencoba meneladani kakaknya, namun beliau sangatlah berduka karena dimana-mana beliau menyaksikan rakyat dirampas dan dibunuh oleh para Tartar. Pada tahun 1257
Tartar jatuh ke tangan Yoroslavl. Sang pangeran sendiri juga turut maju melawan musuh, namun di dalam peperangan itu pula beliau wafat bagi negerinya. Pada tahun 1501 relik tak ternoda dari pangeran kudus ini ditemukan dan kini disimpan di katedral Yoroslavl

Jumat, 26 Juni 2009

Janasuci Daud


Janasuci Daud lahir di Tesalonika. Mulanya beliau menghidupi hidup asketik di pinggiran Tesalonika di sebuah gubuk yang beliau bangun di atas sebuah pohon almon. Kemudian beliau melanjutkan hidup asketiknya di Thessaly. Beliau memurnikan dirinya dengan berpuasa, doa dan wijil semalaman yang memperlayakkannya untuk menerima rahmat agung dari Allah. Ketika beliau mengambil bara di tangannya dan mendupai sang Kaisar dengan tanpa luka-luka di tangannya. Melihat hal itu, sang Kaisar bertelut dihadapannya. Beliau membuat ketakjuban bagi banyak orang dengan berbagai mujizat. Beliau wafat dengan damai dan mengambil bagian di dalam keterberkatan kekal pada tahun 540 M.





Selasa, 16 Juni 2009

16 Juni


JANASUCI TIKHON, EPISKOP BAGI AMATHUS

Janasuci Tikhon adalah dikaruniai untuk membuat mujizat. Setelah wafatnya Mnemonius yang Terberkati, dia segera diangkat menjadi episkop dan ditahbiskan oleh Epifanius yang ternama bagi Diosis Amathus. Kemurniannya dan kegigihannya akan iman Orthodoxia membuatnya pantas untuk jabatan ini. Pada waktu itu ada banyak pagan di daerah Siprus. Dengan kegigihan rasuliah Js. Tikhon membawa begitu banyak orang yang tidak percaya menjadi percaya. Dalam hal itu dia sangatlah berhasil. Setelah jerih payahnya di ladang anggur Tuhan, Tikhon megambil tempat di dalam kekekalan sekitar tahun 425 M. Dia dijuluki sang pekerja mujizat sebab begitu banyak mujizat yang ada melaluinya selama beliau hidup. Ayah Tikhon adalah pembuat roti. Ketika ayahnya meninggalkannya sendiri menjaga toko, dia membagi-bagikan rotinya kepada orang-orang miskin secara cuma-cuma. Suatu kali ayahnya memarahinya karena ini. Tikhon berdoa kepada Allah dan lumbung mereka kemudian penuh dengan gandum sampai penuh dan tidak dapat ditutup. Pada waktu yang lain, beliau menannam tangkai anggur yang sudah layu dan pada waktunya anggur itu berbuah amat lebat!

Jumat, 12 Juni 2009

12 Juni


Janasuci (Yohannes) Tornike dari Gunung Athos

Tornike Eristavi (sebuah gelar Georgian yang secara harafiah berarti "kepala pasukan". Seorang eristavi adalah kepala atau pemimpin dari sebuah provinsi dan pilar bagi kerajaan Georgia. Selama suatu masa dalam sejarah Georgia, gelar ini adalah gelar turun temurun. Gelar ini setara dengan gelar Duke di Eropa, selanjutnya beliau disebut Yohanes dari Gn. Athos) adalah pemimpin pasukan Georgia yang ternama oleh karena kemenangannya dalam sebuah perang dan perkenanan dari Raja Daud Kuropalates. Akhirnya beliau meninggalkan kemuliaan duniawinya dan memulai mencari bapa rohaninya, Js. Yohanes di Gunung Olimpus. Disana beliau menyadari bahwa Js. Yohanes sudah pindah ke Gn. Athos, sehingga beliau menuju ke sana dan tinggal dengannya di sebuah biara yang dikepalai oleh Js. Athanasius sang Athonan. Beliau dinobatkan menjadi rahib dan diberi nama baru, Yohannes.

Lalu banyak orang Georgia menjadi haus akan kehidupan Asketis dan tiba untuk berjuang di Gunung Suci. Untuk melayani komunitas muda tersebut, Js. Yuhanes membangun sebuah gereja menghormati Js. Yohanes Sang Teolog dan mendirikan sel disekitarnya. Dengan demikian, komunitas Georgia mula-mula di Gn. Athos didirikan.

Pada masa itu, Bardas Sklerus, kepala pasukan dari Asia Kecil, memimpin pemberontakan melawan Basilus dan Constantinus, kasiar-kaisar muda Byzantin. Theophania sang janda permaisuri mengharapkan bantuan dari Georgia, meminta agar Yohanes Tornike berangkat ke negeri kelahirannya, memberitahukan kepayahan di Byzantium dan mendatangkan pasukan Georgia untuk penolong. Setelah saudara yang lain juga memohon kepadanya, beliau menerima berkat dari Js. Athanasius dan kembali ke Georgia dan menyampaikan surat Theophania kepada Raja Daud Kuropalates. Sang raja dengan amat gembira akan usulan perwira kebanggaannya dan akhirnya dengan pertolongan Allah, dengan bimbingan dari Yohanes Tornike, dua belas ribu tentara Georgia berhasil menaklukan pasukan Bardas Sklerus dan mengusir pengkhianat dari Byzantium (s. 979).

Setelah kemenangan ini, Yohanes Tornike kembali segera ke Gn. Athos. Para saudara menjumpainya dengan gembira dan bersyukur kepada Allah karena telah mengembalikannya dengan selamat ke monasteri.

Js. Yohanes-Tornike ialah teladan yang agung untuk kerendahan hati. Dia menyangkal kehendaknya sendiri secara penuh dan tidak akan melakukan apapun tanpa berkat dari bapa rohaninya. "Saya mempercayakan diri dan kehendak saya kepadamu. Selamtkanlah aku seturut kehendakmu! demikaian ujarnya kepada Js. Yohanes.

Para saudara di monesteri itu sering bertanya kepada Yohanes Tornike untuk mengingatkannya akan keagungannya secara militer. Suatu kali Js. Yohanes diminta untuk menceritakan ingatannya kepada Bapa Gabriel, seorang yang tidak pernah mengatakan hal-hal yang sia-sia. Js. Yohanes Tornike setuju dan setelah beliau mengisahkan kejayaannya kepada sang Orang Tua, dia berhenti berbicara seketika. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di dalam ketenangan, kesunyian dan wafat dengan damai.

Selasa, 09 Juni 2009

09 Juni


Janasuci Siril [Kiril] sang Arkepiskop dari Aleksandria

Kiril lahir dari keluarga bangsawan dan saudara dekat dengan Teofilus, Patriarkh dari Aleksandria, yang setelah wafatnya beliaulah yang ditahbiskan sebagai pengganti Patriarkh. Selama masa hidupnya, dia mengahadapi bidat Novatian, bidat Nestor dan orang Yahudi di Aleksandria. Pengikut Novatian dahulu bersal dari Roma dan diberi nama sesuai presbiter dan pemimbin bidat tersebut. Mereka berbangga atas perbuatan mereka, berkeliling dengan jubah putih, melarang pernikahan setelah menjanda, percaya bahwa doa tidak boleh diucapkan oleh mereka yang berdosa fatal, dan tidak boleh untuk diterima kembali di dalam gereja, yakni mereka yang terjatuh dan ingin kembali ke gereja meski dengan pertobatan yang sungguh-sungguh.
Kiril menentang mereka dan meminta mereka meninggalkan Aleksandria beserta episkop mereka. Pergumulan dengan orang Yahudi juga lebih keras dan berpayah. Sebab sejak Aleksander Agung membangun kota itu, umat Yahudi sejak awal menjadi sangat kuat di Aleksandria. Kebencian mereka kepada orang Kristen sangatlah manyeramkan. Mereka membunuh para pengajar Kristen, dengan cara meracuni dan menyalibkan mereka. Setelah pergumulan yang panjang dan menyusahkan, Kiril berhasil bersama-sama Kaisar Theodosius Muda mengantar orang Yahudi ke luar kota Aleksandria.

Bagaimanapun pergumulannya terhadap Nestor, Patriarkh dari Konstantinopel diselesaikan pada Konsili Ekumenis Ketiga [Efesus 431 M]. Kiril memimpin musaywarah itu dan secara bersamaan mewakili Selestinus sang Paus dari Roma atas permintaannya yang tidak bisa hadir ke Konsili karena usia tua. Nestorius dihukum, dikucilkan dan dihukum oleh Kaisar untuk pergi ke perbatasan timur kekaisaran tempat ia meninggal (ulat memakan lidahnya sebab ia menghujat sang Theotokos sebagai Kristostokos). Setelah menyelesaikan pergumulannya, Kiril hidup dalam damai dan dengan setia melindungi umat milik Kristus. Dia wafat pada tahun 444 M.

Sabtu, 06 Juni 2009

6 Juni


Hiromartir Dorotheus, sang Episkop bagi Tirus

Hiromartir Dorotheus adalah episkop bagi kota Fenisian Tirus, selama masa penganiayaan terhadap gereja dibawah kaisar Diokletian (284-305). Setelah mendengarkan sabda Injil (Mat. 10:23), sang janasuci pergi dari Tirus dan menyembunyikan diri dari para penganiaya. Beliau kembali ke Tirus selama masa kekuasaan Js. Konstantinus Agung (306-337, 21 Mei), menempati takhta keepiskopan lagi dan membimbing selama lebih dari lima belas thaun dan mempertobatkan banyak pagan ke dalam Kekristenan. Ketika kaisar Yulian sang Murtad (361-363) memulai penganiayaan terhadap orang Kristen, Js. Dorotheus sudah berusia 100 tahun. Dia mengungsi dari kota Mizean bernama Udum (masa kini kota Varna di Bulgaria). Para utusan kaisar menangkapnya di sana karena penolakannya untuk menyembah berhala. Mereka mulai menganiaya Orangtua yang kudus itu, dan dibawah siksaan itu dia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan (s. 362) pada usia 107 tahun.
Beberapa yakin bahwa Js. Doroteus menulis karya kompilasi "Sinopsis", sebuah kumpulan perkataan hikmat, dan mencakup hidup para nabi dan rasul kudus.

Kamis, 04 Juni 2009

04 Juni

Janasuci Metrofanes, Patriarkh pertama bagi Konstantinopel

Ayahnya adalah Dometius, adik dari Kaisar Romawi Probus, yang lari dari kota Roma sebagai seorang kristen dan tiba di Bizantium. Titus, sang episkop Bizantin, mentahbiskannya menjadi imam (presbiter). Setelah wafatnya Titus, Dometius menjadi episkop bagi Bizantium. Setelah wafatnya Dometius, anak laki-lakinya yang pertama Probus menjadi penerus tahta keepiskopan dan setelah wafatnya Probus, Metrofanes menempati takhta keepiskopan itu. Ketika Kaisar Konstantinus melihat Metrofanes, dia menyayanginya seperti ayahnya sendiri. Pada Konsili Ekomenis Pertama [325 M], Metrofanes sudah mencapai usia 117 tahun dan tidak dapat menghadiri dalam karya Konsili itu, jadi beliau menunjuk Aleksander yang adalah Koriepiskopusnya sebagai wakil. Sang kaisar, oleh karena pengaruh dari Konsili ini memberinya gelar Patriarkh. Dengan demikian beliau adalah Patriarkh pertama bagi Konstantinopel. Lalu, sang kaisar mengunjungi arkipastor yang sedang terbaring lemah dan lanjut usia itu. Saat sang kaisar menanyakan siapa yang dia inginkan untuk meneruskan takhta kepatriakhan, Metrofanes menyebutkan nama Aleksander. Berikut ini yang dia katakan kepada Aleksander dari Aleksandria: " Ya saudaraku, engkau akan tetap menjadi penggantiku yang paling layak." Dia meraih tangan Arkdiaken Athanasius (yang kemudian adalah Athanasius Agung dan Patriarkh dari Aleksandria) dan beliau memujinya dihadapan semua. Setelag nubuatan tentang penggantinya ini, Metrofanes memohon pengampunan dari semua dan dalam sepuluh hari dia menyerahkan nyawanya ke dalam tangan Tuhan pada tahun 325 M.

Rabu, 03 Juni 2009

03 Juni


Hiromartir Lucianus sang Episkop bagi Beauvais di Perancis

Hiromartir Lucianus hidup di Roma dan nama pagannya dahulu ialah Lucius. Dia dipertobatkan ke dalam Kekristenan oleh Rasul Petrus dan dibaptiskan. Setelah wafatnya Js. Petrus, Js. Lucianus mengabarkan Injil di Italia. Js. Dionisius sang Aeropagis (3 Oktober), seorang murid dari Js. Paulus tiba di Roma pada waktu itu. Atas permintaan Js. Klement, Papa dari Roma (25 November), dia setuju untuk mengabarkan injil di Barat dan mengumpulkan rekan dan penolong untuk tugas ini.

Js. Klemens mentahbiskan Js. Lucianus sebagai Episkop, lalu mengirimkan dia bersama-sama dengan Js Dionisius, Js. Marselinus dan Saturninus, Presbiter Maximianus dan Diaken Yulian.

Para pekabar injil itu menyebrang dari Italia sampai dengan Gaul (di dunia modern Perancis). Js. Marsellinus dan yang menyertainya melanjutkan hingga Spanyol. Js. Saturninus pergi ke Gaul dan Js. Dionisius dan yang lainnya pergi ke daerah Paris. Dari sana Js. Lucianus pergi ke Belgium bersama Maximian dan Yulian.

Pewartaan Js. Lucianus sangatlah berhasil. Dengan kuasa perkataannya dan teladan hidupnya, dia mempertobatkan banyak pagan ke dalam Kekristenan. Js. Lucianus adalah seorang asketik yang taat, dan sepanjang hari dia hanya memakan sekerat roti dan air minum. Dia amat baik kepada mereka yang telah menjadi percaya, memiliki wajah yang senantiasa cerah dan berseri-seri. Dengan segera hampir seluruh penduduk Belgium dibawa kepada Kristus.

Selama masa ini, kaisar Romawi Dometian (81-96) memulai penganiayaan kedua terhadap umat Kristen (setelah Nero, 54-68), dan dia mengeluarkan sebuah edikta yang memaparkan penganiayaan dan pembunuhan bagi siapa saja yang menolak penyembahan terhadap allah pagan.

Tiga serdadu dikirimkan ke Belgium untuk menyampaikan edikta itu. Tuhan menyatakan itu kepada Js. Lucianus tentang siksaan yang sedang menantinya. Dia mengumpulkan umat di sana bersama-sama, menasihati mereka agar tidak takut ancaman, aniaya ataupun kematian, dan mereka mengucapkan syukur kepada Allah oleh karena telah mengaruniakan kesempatan untuk bergabung bersama para martir kudus. Setelah berdoa, Js. Lucianus dan sang imam Maximian dan Diaken Yulian pergi ke puncak bukit, tempat ia meneruskan pengajaran kepada mereka yang datang menemuinya.
Di sinilah para tentara dari kaisar datang ke tempat para janasuci dan membawa mereka ke pengadilan.Js. Maximian dan Yulian dipaksa untuk menyangkal Kristus dan mempersembahkan persembahan kepada berhala-berhala, namun mereka berdua menolak dan dipenggal.

Sang hakim mulai memeriksa Js. Lucianus, menuduhnya sebagai yang melakukan perdukunan dan ketidaktaatan kepada kaisar dan Senat. Sang janasuci menjawab bahwa dia bukanah penyihir namuan adalah hamba dari Allah yang benar, Tuhan Yesus Kristus, dan dia menolak untuk memberikan persembahan kepada berhala yang dibuat dengan tangan.

Sang Janasuci dikenakan pukulan yang mengerikan yang ditengah-tengahnya dia menjawab, "Aku tida akan pernah berhenti memuji Kristus, Anak Allah, di dalam hatiku dan di dalam mulutku." Lalu sang martir kudus itu dipenggal. Sinar sorgawi emancar dari tubuhnya dan Suara Sang Juruselamat terdengar, memanggil sang janasuci yang menderita dengan gagah berani ke dalam Kerajaan sorga dan menerima mahkota martir. Dengan kekuatan dari Allah sang martir berdiri, mengambil kepalanya yang putung dan menyebrang melewati sungai. Setelah mencapai tempat penguburan yang dia pilih, dia berbaring ditanah dan beristirahat dalam damai.

Karena mujizat agung ini, sekitar 500 pagan bertobat kepada Kristus. Lalu sebuah gereja didirikan diatas makam Js. Lucianus dan relik martir Maximian dan Yulian dikirim ke sana.

Selasa, 02 Juni 2009

02 Juni


Martir Yohanes yang Baru dari Sochi yang menderita di Belgrade


Martir Agung Yohannes dari Sochi hidup pada abad ke empat belas di kota Trebizond. Dia adalah niagawan, sangat taat dan teguh di dalam iman Orthodoxianya dan sangat baik kepada orang miskin.


Suatu kali, dia sedang berlayar di sebuah perahu ketika sedang mengadakan perdagangan. Sang kapten yang bukan Orthodox, namun terlibat di dalam perbincangan tentang Iman dengan Js. Yohanes. Setelah kewalahan dengan kata-kata sang Janasuci, sang kapten memutuskan untuk menyalahinya ketika mereka sampai di Belgrade. Selama ia masih tinggal di pelabuhan di Belgrade, sang kapten pergi kepada wali kota yang menyembah api dan mengatakan bahwa di dalam perahunya ada seorang yang terpelajar ingin menjadi penyembah api.

Sang walikota mengajaknya untuk bergabung dengan para penyembah api dan menyangkal imannya kepada Kristus.


Sang Janasuci berdoa secara diam-diam dan meminta petolongan dari Dia Yang berkata, "Ketika mereka menangkap engkau dan menyeretmu, janganlah kuatir akan apa yang akan engkau katakan, akan apa yang engkau sampaikan; namun apapun yang diberikan kepadamu untuk engkau katakan, ketakanlah hal itu, sebab bukanlah kamu yang mengatakannya, namunRoh Kudus." (Markus 13:11). Dan Than memberikannya keberanian dan pengertian untuk mengahadapi orang-orang yang tidak saleh itu dan mengaku dengan teguh bahwa dia adalah orang Kristen. Setelah itu, sang janasuci dipukuli dengan parah dengan gada sampai seluruh tubuhnya memar, dan dagingnya tercabik-cabik. Sang martir kudus bersyukur kepada Allah sebab telah menemukannya layak untuk menumpahkan darah bagi Dia dan dengan demikian membersihkan dosa-dosanya.

Lalu mereka membelenggu mereka dengan rantai dan menyeretnya ke penjara. Pada pagi hari sang walikota memerintahkan agar sang janasuci dihadapkan kepadanya lagi. Sang martir datang kepadanya dengan wajah yang cerah dan penuh kegembiraan. Sang martir yang gagah berani menolak untk menyangkkal Kristus, mengatakan sang gubernur sebagai alat Satan. Lalu mereka memukulinya dengan gada sehingga organnya nampak dari dalam tubuh.
Orang banyak yang berkumpul di situ tidak dapat tahan menyaksikan kejadian yang mengerikan ini dan mereka mulai berteriak kepada sang gubernur sebab mereka telah menyiksa orang yang tak berdaya. Sang gubernur lalu menghentikan pemukulan dan memerintahkan untuk mengikat Martir Agung pada ekor kuda liar dan menyeretnya melewati jalan-jalan di kota. Penduduk kuartal Yahudi mencemooh sang martir dan melemparinya dengan batu. Akhirnya sesorang mengambil sebilah pedang dan memenggal kepalanya.
Tubuh janasuci Yohanes dan kepalanya ditinggalkan sampai petang hari, dan tak seorang Kristenpun berani mengmbilnya. Pada malam hari, sebuah piral terang benderang nampak di atasnya dan lampu-lampu yang menyala-nyala. Tiga pria yang membawa lampu menyanyikan Mazmur dan mendupai tubuh sang janasuci. Salah satu dari orang Yahudi itu berpikir bahwa mereka adalah orang-orang Kristen yang hendak mengambil jenazah sang martir, mengambil busur panah dan mencoba untuk membidikkan anak panah ke arahnya, namun dikekang oleh kuasa Allah yang tidak nampak dan menjadi kaku.
Pada pagib harinya penglihatan itu sirna, namun sang pemanah itu tetap berdiri tanpa gerak. Setelah menceritakan kepada kerumunan orang yang datang ke sana mengenai penglihatan dan apa yang telah dilakukan kepadanya atas perintah Allah, dia dibebaskan dari ikatan tak nampak mata. Setelah mempelajari kejadian itu, sang walikota memberikan izin untuk menguburkan jenazah sang martir di gereja setempat. Hal ini terjadi antara tahun 1330 dan 1340. Ada beberapa pertanyaan mengenai tahun wafat sang martir. Janasuci Nikodemus dari Gunung Suci memberikan tahun 1642 sementara yang lain mengatakan 1492.
Sang kapten yang telah mengkhianati Js. Yohanes bertobat dari perbuatannya, dan memutuskan secara diam-diam untuk mengantarkan reliknya ke kampung halamannya, namun sang janasuci menampakkan diri di dalam mimpi kepada imam di gereja dan mencegah hal ini. Setelah tujuh puluh tahun reliknya dikirim ke Sochi, ibukota dari provinsi Moldo-Valachian dan di tempatkan di gereja Katedral.

Sabtu, 30 Mei 2009

30 Mei


Yang Terpuji Ishak , Pendiri Monasteri Damaltian di Konstantinopel

Janasuci Ishak hidup semasa abad ke empat, dan menerima tahbisan monastik dan dengan tekun melaksanakan hidup asketik di padang gurun. Selama pemerintahan kaisar Valens (364-378), pengikut taat dari bidat Arianisme disana enganiaya umat Orthodox dan banyak gereja yang ditutup dan dihancurkan.

Mendengar bahwa ada penganiayaan, Js. Ishak meninggalkan belantara dan pergi ke Konstantinopel untuk menghibur dan menguatkan umat Orthodox dan untuk menentang bidat itu. Pada saat itu bangsa barbar Goth sedang memerangi kekaisaran di sepanjang Sungai Danube. Mereka mengepung Trakhe dan sedang menuju Konstantinopel.

Saat sang kaisar Valens meninggalkan ibukota dengan para pasukannya, Js. Ishak berseru, Kaisar, lepaskanlah gereja-gereja Orthodox dan Tuhan Allah akan menolongmu!" Namun sang kaisar, tidak mempedulikan kata-kata sang rahib, dengan percaya diri melanjutkan perjalanannya. Sang Janasuci mengulangi permintaannya dan nubuatannya selama tiga kali. Sang kaisar yang murka memerintahkan Js. Ishak agar dilemparkan kedalam jurang yang dalam, yang dipenuhi dengan semak duri dan lumpur, yang sangat mustahil baginya untuk melarikan diri.

Dengan pertolongan Tuhan, Js. Ishak tetap hidup dan dia bersegera mendapati kaisar dan berkata, "Engkau ingin meremukkanku, namun tiga orang malaikat menarikku dari lumpur yang dalam. Dengarkanlah aku, bukalah gereja-gereja bagi umat Orthodox dan engkau akan menaklukan musuhmu. Jikalau tidak, maka engkau tidak akan pernah kembali. Engkau akan ditawan dan dibakar hidup-hidup." Sang kaisar tercengang akan keberanian sang janasuci dan memerintahkan pengawalnya Saturninus dan Viktor untuk melemparkan ia ke penjara smapai dia kembali.

Nubuatan Js. Ishaak lantas terpenuhi. Bangsa Goth mengalahkan dan mengejar tentara Yunani. Sang kaisar dan jendral-jendral Arianisnya melarikan diri di lumbung yang penuh dengan jerami dan penyerbu membakarnya. Setelah mendapat kabar akan kematian kaisar, mereka membebaskan Js. Ishaak dan menghormatinya sebagai seorang nabi.

Lalu Kaisar kudus Theodosius Agung (379-395) naik takhta. Atas anjuran Saturninus dan Viktor, dia memanggil sang Penatua, memperlakulkannya dengan penuh hormat. Menaati anjurannya, dia melarang bidat Arian dari Konstantinopel dan memulihkan gereja-gereja kepada umat Orthodox. Js. Ishak lalu kembali ke padang pasir, namun Saturninus dan Viktor memohonnya untuk tidak meninggalkan kota dan agar tetap tinggal dan melindunginya dengan doa-doannya.

Saturninus membangun monasteri bagi sang janasuci di Konstantinopel, tempat para rahib berkumpul di sekelilingnya. Js. Ishak adalah Igumen dari monasteri itu dan Pembimbing rohani. Dia juga merwat orang-orang biasa dan menolong orang yang miskin dan menderita.

Ketika ia mencapai usia lanjut, Js. Ishak mengangkat Js. Damaltus (3 Agustus) sebagai Igumen. Monasterti itu lalu disebut dengan Damaltus. Js. Ishak wafat pada tahun 383, dan peringatannya juga dirayakan tanggal 22 Maret.

Jumat, 29 Mei 2009

29 Mei


Martir Theodosia dari Tirus

Suatu waktu pada masa pemerintahan Kaisar Maksimianus, banyak orang Kristen yang diikat berdiri di depan wali negeri di Kaesarea Palestina. Sang perawan Theodosia mendekati, menghibur dan menguatkan mereka di dalam kemartiran mereka. Begitu mendengarkan apa yang dia katakan, para tentara juga membawanya kepada sang hakim. Hakim yang murka memerintahkan agar sebuah batu digantungkan di lehernya dan melemparkannya ke dalam lautan. Namun malaikat Tuhan membawanya ke pantai dengan selamat. Ketika dia tampil kembali di hadapan sang hakim, hakim itu memerintahkan agar dia dipenggal. Malam berikutnya, Theodosia menampakkan diri kepada orangtuanya dengan diliputi cahaya sorgawi, dikelilingi oleh para perawan yang telah diselamatkan dan berkata: "Apakah engkau melihat betapa agung kemuliaan dan rahmat dari Kristusku yang ingin engkau renggut dariku?" Dia berkata hal itu kepada orangtuanya karena mereka pernah mencoba untuk membujuknya untuk tidak mengakui Kristus dan dari kemartiran. Theodosia menderita dengan terpuji dan dimuliakan pada tahun 308 M.

Kamis, 28 Mei 2009

28 Mei


Janasuci Nekitas

Janasuci Niketas, Episkop dari Kalsedon, hidup pada pertengahan akhir abad yang ke delapan. Oleh karena hidupnya yang menyenangkan Tuhan dia ditahbiskan menjadi Episkop di Kalsedon.

Ciri khas janasuci Niketas adalah kemurahan hatinya, dia selalu menolong orang miskin, menyediakan tumpangan bagi orang asing, dia merawat anak-anak yatim dan janda-janda dan dia mendoakan mereka yang telah berlaku salah.

Selama masa pemerintahan Leo orang Aremenia yang ikonoklast (penghancur ikon), Js. Niketas dengan gagah berani menentang bidat Ikonoklasme dan menyerukan kepada umat untuk menghormati ikon kudus Kristus, Theotokos dan para janasuci. Js. Niketas menanggung dengan sabar segala penganiayaan dari kaisar keji itu dan pengikutnya yang sepakat. Dia dihadapkan pada penganiayaan dan di buang ke pengucilan.

Sang pengaku iman Niketas yang kudus wafat pada awal abad ke sembilan. Dari reliknya terjadi banyak mujizat. ibadah Kanon, yang ditulis oleh imam Yosef dari Konstantinopel juga mengikutsertakan saudara Js. Niketas, Js. Ignatius diantara para janasuci.

Rabu, 27 Mei 2009

27 Mei

Martir Kudus THEODORA dan DIDIMUS

Selama masa pemerintahan keji oleh Kaisar Maximilian hiduplah di Aleksandria seorang perawan Theodora, keturunan bangsawan dan anak yang mulai. Sebagai seorang Kristen dia dibawa kedalam ujian di hadapan para pagan. Setelah masa panjang dari penganiayaan terhadap orang Kristen, pangeran sang penganiaya memerintahakan agar dia di bawa ke tempat yang tekenal menyeramkan dan mengijinkan para tentara untuk masuk dan menghampirinya untuk memenuhi keinginan daging mereka.

Janasuci Theodora berdoa tak henti kepada Tuhan dari pencemaran dan sementara dia berdoa, seorang tentara bernama Didimus datang padanya dan mengatakan bahwa dia juga adalah seorang hamba Kristus. Lalu ia mengenakan pakaian militer dalam penyamaran. Lalu dia mempersilakannya untuk meninggalkan tempat itu dan dia (Didimus) tetap tinggal di rumah buangan itu. Lalu dia ditangkap dan di bawa ke dalam pengujian, mengakui bahwa dia adalah seorang Kristen dan bahwa ia telah menyelamatkan Theodora dan bahwa ia bersedia untuk mati bagi Kristus.

Didimus dihukum mati dengan cara di bawa ke panggung hukuman mati. Theodora berlari ke arahnya dan berseru: "Meskipun engkau menyelamatkan kehormatanku, Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku dari kematian. Perkenankanlah aku untuk mati sebagai martir."

Js. Didimus berkata kepadanya: "Saudariku yang terkasih, janganlah menghalangiku untuk mati bagi Kristus dan keduanya dipenggal dan tubuh mereka dibakar. Mareka menderita dengan penuh hormat dan menerima mahkota kemuliaan kekal pada tahun 304 M di Aleksandria.

Senin, 25 Mei 2009

25 Mei


Hiromartir Terapon sang Episkop dari Siprus


Hiromartir Terapon, Episkop dari Siprus menghidupi hidup asketis dalam biara dan setelah itu ia melayani sebagai episkop di Pulau Siprus. Pada masa penganiayaan di bawah Diokletian (284-305), Js. Terapon mengaku imannya dalam nama Tuhan Yesus Kristus dengan gagah berani dan wafat dalam kematian kemartiran.


Relik dari hiromartir ini pertama-tama ditempatkan di Siprus dan dimuliakan oleh begitu banyak mujizat. Lalu, pada tahun 806, relik ini dikirimkan ke Konstantinopel. Relik ini dipindah karena bahaya dari upaya pengepungan para Sakaren. Begitu kapalnya berlayar ke Konstantinopel, mur wangi mulai mengalir dari relik itu dan para pelancong di dalam kapal itu diselamatkan secara ajaib dari badai melalui doa mereka dengan pertolongan Js. Terapon.


Setelah sampai di Konstantinopel, relik sang hiromartir ditempatkan di dalam gereja yang di bangun untuk hormat atas Ikon Bunda Tuhan dari Elousa atau "Yang Penuh Belas Kasih" (12 November).


Pada tahun 806 relik dipindah lagi ke dalam gereja yang dibangun untuk hormat atas Hiromartir Terapon, mur wangi mengalir dari relik itu dan terjadilah mujizat. Melalui doa Js. Terapon, mereka yang sakit parah disembuhkan dan yang sekarat dipulihkan.

Rabu, 20 Mei 2009

20 Mei


Martir Kudus Talelaius

Talelaius dilahirkan di Libanon. Ayahnya dipanggil Berusius dan ibunya bernama Romila. Talelaius saat itu ialah pemuda berusia 19 tahun, berwajah tampan, tinggi dan berambut pirang kemerah-kuningan. Dia berprofesi sebagai tabib. Dia menderita bagi Kristus selama masa pemerintahan Numerian. Ketika dia mengakui imannya dalam Kristus dengan gagah berani di dapan hakimnya yang keji, sang hakim memerintahkan kedua penganiaya, Aleksander dan Asterius untuk membor lututnya dengan bor, untuk mengikatkan tulang yang berlubang-lubang dan menggantungnya di pohon. Namun Tuhan melalui kuasa-Nya yang tak kasat mata mengambil penglihatan sang penganiaya. Di tempat Talelaius mereka melubangi papan dan menggantungnya dari sebuah pohon. Ketika penganiaya dari hakim itu melihatnya, mereka berpikir bahwa pelaksana eksekusi melakukannya dengan sengaja dan oleh karena itu mereka diperintahakan untuk dicambuk. Lalu Aleksander dan Asterius, ditengah hukuman cambuk, mereka berseru: Tuhan hidup bagi kami! dan mulai saat ini kami juga adalah orang Kristen. Kami percaya akan Kristus dan menderita bagi Dia.

Mendengar hal itu, hakim penganiaya memerintahkan mereka untuk dipenggal. Lalu ia mengambil bor untuk membor lutut Talelaius dengan tangannya sendiri tapin menjadi lumpuh dan dia memohon kepada Talelaius untuk menyembuhkannya, yang benar-benar dilakukan oleh sang martir Kristus tak bersalah itu melalui perantaraan doanya.

Lantas, Talelaius dilemparkan kedalam air namuan tetap hidup dihadapan penganiayanya (sebab Talelaius berdoa kepada Tuhan di dalam hati agar memperpanjang sengsaranya sehingga dia tidak wafat segera). Ketika dia dilemparkan kepada binatang buas, mereka menjilati kakinya dan takluk kepadanya. Akhirnya Talelaius dipenggal dan mengambil bagian dalam hidup kekal pada tahun 284 M.